Kabut Asap
![]() |
| Kabut asap di Jambi - pic taken by harianjambi.com |
Kebakaran lahan hutan di Jambi, Sumatera Selatan dan Medan dan beberapa titik api di pulau Sumatera. Dan terjadi juga di beberapa daerah di Pulau Kalimantan. Sudah harus menjadi konsentrasi pemerintah untuk menangani hal ini. Di tengah-tengah koaran inflansi dollar yang naik-turun kaya abege labil, adalah hal lain yang harus segera ditangani.
Dilansir dari bbc.com data yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada kamis kemarin, menunjukkan saat ini ada 178 titik api yang tersebar di Sumatera. Konsentrasi titik api di pulau Sumatera adalah di daerah Sumatera Selatan dan Jambi. Ada 80 titik api di Sumatera Selatan, 69 titik api di Jambi, 10 titik api di Bangka Belitung dan 5 titik api di Riau. Kebakaran lahan hutan di Jambi dan Sumatera Selatan sudah berlangsung dua minggu, dan angin berhembus ke arah utara. Ini menyebabkan penyebaran asap meluas ke berbagai daerah sekitarnya.
Lokasi titik api berada di tengah hutan, dan akses untuk melakukan pemadaman darat sangatlah sulit. Jalan terbaik untuk mengupayakan pemadaman adalah jalur udara dengan waterbombing atau pengguyuran air atau hujan buatan. Sedangkan wilayah tersebut masih belum mengeluarkan status darurat, tanpa status darurat upaya waterbombing hanya bisa dilakukan didarat. Sayang sekali, beberapa heli waterbombing tidak bis aberoperasi dikarenkan izin terbang habis.Maka dengan kata lain, api akan terus memakan hutan, dan asap akan terus merajalela.
Kabut asap telah membahayakan pernapasan. Banyak siswa-siswi yang tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar karena sekolah-sekolah diliburkan. Para pekerja pun bekerja memakai masker karena asap telah masuk ke dalam ruangan. Pengendara pun harus sangat berhati-hati karena jarak pandang yang tidak memungkin untuk kita dapat melihat jelas kejalan. Penerbangan di beberapa daerah lumpuh. Dan masyarakat sudah banyak terkena dampaknya terutama sangat menganggu pernapasan.
Teringat saat masa kecil dulu di tanah kelahiran ku, kota Jambi. Saat itu aku masih bersekolah di Sekolah Dasar. Waktu itu tahun 90an, aku masih bisa berangkat bersekolah. Karena sekolah ku tidak terlalu jauh dari rumah, maka aku hany perlu jalan kaki untuk sampai kesekolah. Hampir mendekati lingkungan sekolah sudah banyak berpapasan dengan teman-teman satu sekolah dan tiba-tiba Bbbrrraaaakkkkk!! aku tersungkur kedalam parit dipinggir jalan. Aku sempat hampir tak sadarkan diri beberapa detik dan kemudian membuka mataku segera karena jantungku tak karuan rasanya. Aku hanya terdiam melihat kondisiku, sudah kulihat tangan dan kaki ku berkucuran darah. Begitupun kepalaku, badanku lemas. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang kebetulan lewat untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah. Masker yang tadi ku pakai pun sudah tak lagi menutupi hidungku, entah kemana. Ibu yang mengenalku segera meminta seorang bapak setengah baya mengantarkanku menuju ke ruang UKS sekolah. Karena pada saat kejadian, UKS sekolah lah yang terdekat. Belum ada puskesmas didekat daerahku. Hanya ada posyandu dan yang aku tahu itu pun hanya buka satu kali dalam sebulan. Setelah aku dibawa ke UKS dan kondisi ku sudah lumayan membaik dari sebelumnya, ibu ku datang. Dia terlihat kaget dan panik. Mendengar cerita dari beberapa saksi yang melihat bahwa aku ditabrak pengendara sepeda motor saat menuju ke sekolah tadi. Sang pengendara pun tersungkur jatuh ke pelataran jalan yang berbatu. Meskipun hanya mendapat luka ringan, tetapi yang kulihat dia sangan shock atas kejadian itu. Dia juga berada di ruang UKS sekolah ku. Dia terduduk lemas dan menjelaskan semuanya kepada ibu ku. Menurutnya dan beberapa saksi, kabut asap pada saat itu sangat mengganggu jarak pandang. Terlebih itu di saat pagi hari dan aku memakai seragam putih, hanya tas selempang hitam yang bisa menandakan bahwa ada orang yang sedang berjalan didalam tebalnya kabut asap.
![]() |
| kabut asap terlihat menutupi area jalan utama di kota jambi - taken pic by metroterkini.com |
Ya, kabut asap sangatlah mengganggu. Bukan hanya terjadi padaku yang menyebabkan aku tertabrak karena jarak pandang yang buruk. Tapi aku juga melihat sendiri bagaimana teman sekelasku menderita sesak napas didalam kelas karena tak lagi dapat menahan asap yang masuk ke kelas kami. Sungguh itu pengalaman buruk yang aku alami. Untungnya beberapa hari selanjutnya, sekolah meliburkan aktifitas belajar mengajar. Dan kami diberi tugas rumah yang banyak agar proses belajar tetap berjalan dirumah meskipun sekolah diliburkan.
Dengan kejadian ini, dan kabut asap yang kali ini terulang lagi, semoga pemerintah cepat mengambil tindakan. Terlepas dari semua isu yang berkembang karena lambatnya penanganan, aku berharap keadaan akan membaik secepatnya. Doaku terutama untuk keluarga ku yang berada di Jambi, Palembang, Riau, Medan dan sekitarnya, dan untuk semua saudara-saudara ku yang berada disana, semoga keadaan akan membaik, tak ada yang tertimpa musibah yang serius akan dampaknya kabut asap ini. Amiin
Salam sayangku untuk tanah kelahiranku


Komentar